Feed on
Posts
Comments

Gaya Komunikasi

Setiap hari kita sebagai manusia melakukan komunikasi dengan orang lain. Ya, karena kita adalah makhluk sosial yang perlu bersosialisasi. Nah, berdasarkan pengalaman saya bersosialisasi selama ini, tercetus ide untuk mengelompokkan orang-orang yang selama ini berkomunikasi dengan saya berdasarkan gaya (atau kebiasaan) nya. Dan inilah hasilnya:

  • Gaya SMS
    Tiada hari tanpa sms, bahkan untuk beberapa kasus yang ekstrem, ada istilah tiada jam tanpa sms. Orang-orang dengan tipe ini adalah orang-orang yang paling responsif dalam me-reply sms, dan juga paling rajin meng-sms orang. Memiliki tanda fisik berupa jempol yang udah kapalan. Paling semangat kalo liat iklan operator seluler yang lagi promosi sms gratis atau bonus sms.
  • Gaya Telpon
    Sering terlihat pakai headset dan komat kamit sendirian. Kalau yang sebelumnya tiada jam tanpa sms, kali ini tiada jam tanpa menelpon ataupun ditelpon. Mau lagi meeting, lagi hangout, lagi makan, minum, lagi buang air (besar ataupun kecil) itu headset tetep nempel di telinga, dan mulut komat kamit tanpa henti.
  • Gaya Email
    Perangkat blackberry adalah andalannya, dimana saja, kapan saja bisa kirim dan terima email. Walaupun ga semuanya punya blackberry. Yang ga punya, cukup puas dengan saling email-emailan dari komputer kantor seharian. Yang mungkin saking udah ga tau mau email apa lagi, semua email yang di terima di forward ke semua contacts yang ada di address book. Gaya ini bisa juga menunjuk pada orang-orang yang suka saling kasi comment ataupun berkirim pesan melalui Friendster ataupun Facebook.
  • Gaya Chatting
    Mirip dengan gaya sebelumnya, hanya saja yang ini lebih real time. Karena lawan komunikasi bisa langsung merespon di layar. Satu hari tanpa chatting rasanya seperti di penjara. Sangat piawai ketak-ketik di komputer, dari balik layar seolah-olah terlihat sedang sibuk bekerja, dengan senyum-senyum simpul dan tawa yang tertahan…*kelamaan di tahan jadinya tersalurkan dari bawah dalam bentuk kentut*
  • Gaya Empat Mata
    Kalau keempat gaya di atas memanfaatkan kecanggihan teknologi. Yang satu ini model yang paling kuno. Walaupun gaya paling kuno, tapi mungkin gaya ini lah yang paling baik dalam berkomunikasi, karena dengan gaya empat mata, kelima panca indera kita bisa terlibat secara aktif dalam proses komunikasi.
  • Tanpa gaya
    Ini buat yang lagi malas berkomunikasi. Entah karena lagi marah, lagi bete, bingung dan sebagainya. Berkomunikasi dengan diri sendiri.

Begitulah berbagai gaya yang sempat terpikirkan oleh saya. Walaupun mungkin ada gaya-gaya yang lain seperti mungkin gaya email jadul alias gaya surat menyurat via pos, yang sudah tidak pernah saya lakukan lagi. Walaupun begitu masih cukup eksis, buktinya kantor pos masih tetap berdiri… hehe…

Mind Map

Tadi sore, sekitar jam empat saya pergi ke toko buku Gramedia di P’langi (Plaza Semanggi) untuk sekedar melihat-lihat. Saya iseng-iseng melihat sebuah buku yang judulnya “Buku Pintar Mind Map” yang di tulis oleh Tony Buzan. Saya lihat sekilas beberapa halaman tengah cukup menarik karena banyak gambar-gambar berwarna mengenai peta pikiran. Akhirnya saya coba baca beberapa halaman awal, ternyata menarik hingga akhirnya saya berdiri selama dua jam lebih menghabiskan membaca buku tersebut yang setebal 200 halaman lebih. Whoa… baru kali ini saya membaca habis sebuah buku hanya dalam satu sesi, itupun dalam keadaan berdiri di toko buku. Bukannya saya pelit, tapi menerapkan prinsip ekonomi: berhemat. Dan lagi karena saya lihat di sebelahnya ada buku yang di tulis oleh Tony Buzan juga, dengan judul “Mind Maps at Work“. Jadi saya pikir satu buku baca di tempat dan satu buku lagi takeaway.

Hal yang saya pelajari dari buku yang saya baca selama dua jam dalam posisi beridiri itu, kurang lebih adalah bagaimana kita membuat catatan dan rumusan masalah atau apapun dalam bentuk konsep visual. Sebuah gambaran atau bisa di sebut peta yang dimulai dari inti permasalahan dan menyebar bercabang ke hal-hal yang mendukungnya. Dengan mind map otak manusia bekerja secara sinergi antara otak kanan dan otak kiri sehingga bisa bekerja lebih maksimal dan dapat menghasilkan ide-ide dan solusi yang kreatif, serta lebih mudah dalam mengingat.

Berikutnya saya akan mencoba membuat Mind Map dari apa saja yang sedang saya lakukan. Entah itu merancang target, dalam belajar, dalam melakukan perencanaan, dan lain sebagainya. Mungkin nanti saya akan share beberapa diantaranya. Bagi yang ingin mencoba membuat Mind Map, bisa dengan bantuan software seperti Mind Manager atau Free Mind.

Ngomong-ngomong mengenai baca buku di tempat, sayangnya sangat jarang toko buku yang menyediakan tempat duduk. Satu-satunya yang saya tau, toko buku yang nyaman dan menyediakan tempat duduk cukup banyak hanya ada di Times bookstore Karawaci. Sayang saya tinggal di Jakarta, jadi sangat tidak mungkin sering-sering ke sana.

Speechless

Saat ini sudah hampir jam 3 pagi, dan baru selesai chatting dengan seorang teman lama, yang dulu satu grup waktu ospek masuk BiNus. Tapi sekarang sudah di US, dan kerja sambil sekolah di sana. Rasanya aneh juga, dulu waktu masih sama-sama kuliah di BiNus, kita berdua jarang ngobrol, malah bisa di bilang ga pernah. Hanya sekedar say hello aja kalo ketemu. Tapi, setelah sekian lama, kita ketemu di YM! sambil webcam-an, dan chatting dengan serunya… Malah, ada satu pernyataan yang sempet bikin saya sedikit “GR”, teman saya itu bilang kalau dulu waktu awal-awal kuliah sempet suka sama saya, hanya saja malu termasuk untuk bertegur sapa dan ngobrol. Baru sekarang deh kita ngobrol dengan serunya setelah terpisah jarak begitu jauhnya. Akhir kata, Selamat tidur….ngantukk…

Semalam chat sama Lu-c (sekarang sudah jam 2 dini hari), dan di kenalin sama yang namanya Facebook yang ternyata mirip-mirip dengan Friendster, yaitu jejaring sosial di alam maya. Tapi Facebook lebih canggih dari friendster karena bisa krim makanan segala ke teman di dalam jaringan kita, hanya saja makanannya pun makanan maya alias hanya sekedar tulisan…hehe… Keren juga, tapi mungkin penggunanya masih belum sebanyak friendster dan juga feature nya yang banyak sehingga waktu buat belajarnya lebih banyak. Btw, ketinggalan zaman banget gak sih gini hari baru kenal yang namanya Facebook? hehe…

Selain untuk membuat kita tetap keep contact dengan teman-teman kita yang se gambreng, mungkin jejaring sosial ini juga berguna buat menambah teman baru. Paling tidak saya pernah sekali kopi darat dengan seseorang yang saya kenal melalui Friendster, yang kebetulan satu almamater di SMP 1 Singaraja, yang kebetulan juga lagi mau melanjutkan sekolah di Jakarta.

Sharing dari teman di ruang chatting di pagi hari…

IQ = Intelligence Quotient
EQ = Emotional Quotient
SQ = Spiritual Quotient

A = Attitude
B = Behaviour
C = Character

D = Destiny / Dream

Older Posts »