Tahan Banting
Hari Rabu kemarin, laptop saya tercinta harus menghadapi ujian tahan banting…*lebih tepatnya terjatuh sih. Karena duduk di kursi lipat yang ada mejanya seperti kursi kuliah itu, ketika berdiri nggak sengaja laptop yang lagi nyala tersenggol dan… *prang…. (bunyinya nggak sedramatis itu sih) jatuhlah laptop tercinta ini. Hal pertama yang saya syukuri adalah laptop saya masih menyala dan dapat berfungsi dengan baik, meskipun beberapa bagian casing nya, antara lain speaker dan casing penutup LCD pecah dan retak. Buktinya saya masih bisa update blog di laptop saya tercinta ini. Akhirnya keesokan harinya saya keliling cari onderdil pengganti bagian yang retak dan pecah itu. Casing LCD yang retak bisa di ganti walaupun warna nya beda (aslinya merah marun menjadi warna silver) dan bagian speaker yang pecah harus nunggu sebulan untuk dipesankan barangnya dulu. Walaupun bentuknya nggak seindah baru, tapi jadi unik karena warna warni, setidaknya masih bisa berfungsi dengan baik.
Dari insiden ini saya mendapat sedikit pencerahan dan ingin berbagi mengenai sebuah filosofi tahan banting. Pernah dengar promosi produk yang mengatakan “tahan banting”, “tahan api”, “anti air” dan lain sebagainya? Bagaimana cara membuktikannya? Tentu saja dengan dibanting kalau memang produk tersebut di claim “tahan banting”. Nah kalau dikait-kaitkan dengan kehidupan nih, ada juga orang yang di sebut “tahan banting” atau “bermental baja” yang walau sudah di “banting” oleh berbagai hal tetap bisa hidup. Tapi bisa hidup bukan sekedar hidup, melainkan tetap bisa berfungsi sebagaimana seharusnya, seperti laptop saya. Memang sih bentuknya ada yang berubah, bisa jadi nggak terlalu bagus lagi, tapi masalahnya adalah nggak perduli bentuknya bagus atau kurang bagus yang penting bisa berfungsi, daripada bentuk bagus tapi nggak bisa berfungsi sebagaimana seharusnya. Malah dengan insiden “terbanting” ini, saya berinisiatif mengupgrade HDD (hard disk drive) dengan kapasitas yang lebih besar. Bukan karena yang lama rusak, tapi karena udah kadong dibongkar-bongkar ya di ganti sekalian dengan yang lebih bagus, yang lama saya pakai sebagai hard disk external. Nah begitu juga dengan manusia “tahan banting”, setelah dibanting dan terbating, masih bisa berfungsi dengan baik walaupun babak belur, tapi juga bise meng-upgrade diri sehingga bisa berfungsi dengan lebih baik.
Mungkin kita dibanting oleh krisis, keadaan yang *kata orang* serba sulit, dan tekanan dari sana sini. Tapi kalau mau membuktikan kita adalah pribadi yang “tahan banting” alias berkualitas, kita harus tetap produktif dan malah bisa meng-upgrade diri menjadi lebih baik lagi.




